Monday, October 28, 2013

Fungsi Kulit dan Jaringan Penunjang: Sensori, Eksresi, Absorbsi, Imunitas

Boleh dibaca nggak boleh dibajak ya, semoga bermanfaat :)

I. Pendahuluan

Kulit merupakan organ terbesar dan terluas yang menyusun tubuh manusia. Sebagai jaringan terluar dari tubuh, kulit yang secara langsung terpapar oleh lingkungan luar tubuh memiliki fungsi utama dalam hal proteksi. Kulit melindungi tubuh dari material maupun energi di lingkungan luar yang berpotensi merusak jaringan tubuh yang lain. Selain itu kulit juga mencegah kehilangan air. Di samping fungsi utama untuk proteksi, kulit juga memiliki banyak fungsi lain di antaranya termoregulasi, sensasi, ekskresi, absorpsi, metabolisme vitamin D, dan imunitas. Berbagai fungsi tersebut pada dasarnya bertujuan sama yaitu untuk mempertahankan homeostasis tubuh melalui interaksi atau hubungan dengan berbagai sistem organ yang lain. Berikut ini akan dibahas mengenai fungsi sensasi, ekskresi, absorpsi, dan imunitas dari kulit.

II. Pembahasan

A. Fungsi Sensasi

Kulit, sebagai jaringan yang letaknya paling luar dari tubuh, memiliki peran dalam menerima rangsang dari luar. Permukaan kulit yang terstimulasi oleh stimulus yang sesuai akan menimbulkan sensasi somatik yang disebut sensasi kutaneus. Stimulus tersebut diterima oleh reseptor yang terletak pada kulit maupun pada lapisan subkutan. Di dalam tubuh, reseptor tersebut tidak terdistribusi merata.1,2 Terdapat beberapa bagian tubuh yang memiliki kepadatan reseptor kulit lebih tinggi dibandingkan dengan yang lain, yaitu: ujung lidah, ujung bibir, dan ujung jari. Adapun yang termasuk dalam sensasi kutaneus antara lain: taktil, termal, dan nyeri.1


Gambar 1. Struktur dan lokasi reseptor pada lapisan kulit dan subkutan
Sumber: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/3/34/Skin.jpg/250px-Skin.jpg

1. Sensasi Taktil

Sensasi taktil didapatkan dari stimulasi reseptor taktil yang terdapat di lapisan kulit maupun subkutan.1 Reseptor tersebut ada yang berupa ujung saraf bebas dan adapula yang terasosiasi dengan suatu struktur sel lain.2 Adapun yang termasuk dalam reseptor taktil antara lain: korpuskula meissner, pleksus akar rambut, merkel discs, korpuskula ruffini, korpuskula pacini, dan ujung saraf bebas. Stimulasi satu atau lebih reseptor tersebut akan menimbulkan sensasi taktil yang dapat berupa sentuhan, tekanan, getaran, gatal, maupun geli. Beberapa sensasi memiliki reseptor yang sama. Mekanoreseptor berkapsul yang berhubungan dengan serabut saraf A bermyelin dan berdiameter besar dapat menimbulkan sensasi sentuhan, tekanan, dan getaran. Ujung saraf lain yang berhubungan dengan serabut saraf C tidak bermyelin dan berdiameter kecil menimbulkan sensasi gatal dan geli.1

· Sensasi sentuhan secara umum didapatkan dari stimulasi reseptor taktil pada lapisan kulit maupun subkutan. Terdapat dua jenis reseptor berdasarkan kecepatan adaptasinya, yaitu reseptor sentuhan yang beradaptasi dengan cepat dan reseptor sentuhan yang beradaptasi dengan lambat. Reseptor sentuhan yang beradaptasi dengan cepat terdiri atas korpuskula meissner yang terletak di bagian papilla dermis dan pleksus akar rambut yang berupa suatu ujung saraf bebas terbungkus folikel rambut. Sementara itu, reseptor sentuhan yang beradaptasi dengan lambat terdiri dari merkel discs atau tactile discs atau mekanoreseptor kutaneus tipe 1 yang berkontak dengan sel merkel pada stratum basal epidermis dan korpuskula ruffini atau mekanoreseptor kutaneus tipe 2 yang terdapat dalam lapisan dermis.1

· Sensasi tekanan didapatkan dari stimulasi yang terjadi pada area lebih luas dan terjadi deformasi pada jaringan yang lebih dalam. Reseptor yang berperan dalam timbulnya sensasi ini antara lain: korpuskula meissner, merkel discs, dan korpuskula pacini yang merupakan ujung dendrit dengan jaringan ikat berlapis yang mengelilinginya.1,2

· Sensasi getar didapatkan dari stimulasi yang berulang atau repetitif pada reseptor korpuskula meissner dan pacini. Korpuskula meissner dapat mendeteksi getaran dengan frekuensi lebih rendah, sedangkan pacini dapat mendeteksi getaran yang frekuensinya lebih tinggi.1

· Sensasi gatal, terjadi akibat stimulasi ujung saraf bebas oleh zat kimia tertentu, misalnya bradikinin.1

· Sensasi geli, diperkirakan terjadi akibat stimulasi ujung saraf bebas, yang melibatkan peran serebelum dalam prosesnya karena geli hanya terjadi jika orang lain yang menyentuh kita, sementara jika menyentuh diri sendiri tidak akan terjadi geli.1

2. Sensasi Termal

Kulit dapat membedakan panas dan dingin. Menurut Tortora dan Bryan, pada kulit terdapat termoreseptor yang berupa ujung saraf bebas. Reseptor dingin terletak di stratum basal dan terasosiasi dengan serat saraf A bermyelin. Sedangkan, reseptor hangat yang jumlahnya tidak sebanyak reseptor dingin, terletak pada dermis dan terasosiasi dengan serat saraf C tak bermyelin.1

3. Sensasi Nyeri

Nyeri dapat terjadi akibat stimulasi pada nosiseptor, ujung saraf bebas yang ditemukan di semua jaringan kecuali otak. Suhu yang terlalu dingin atau panas, tekanan mekanik, maupun stimulasi kimia seperti prostaglandin yang dihasilkan oleh jaringan yang berjejas dapat mengaktifkan reseptor ini. Terdapat dua jenis nyeri yaitu nyeri akut dan kronik. Nyeri akut terjadi dengan cepat dan umumnya dapat diketahui secara tepat bagian tubuh mana yang mengalami nyeri. Sedangkan nyeri kronik terjadi lebih lambat namun lama dan melingkupi area lebih luas.1

B. Fungsi Ekskresi

Kulit turut berperan dalam mengeliminasi zat dari dalam tubuh. Meskipun bersifat waterproof, air masih dapat melakukan evaporasi melalui kulit. Dalam sehari, sekitar 400 ml air terevaporasi melalui kulit dan disebut sebagai insensible perspiration. Di samping itu, dengan adanya kelenjar keringat, kulit mengekskresikan keringat yang mengandung garam, karbon dioksida, amonia, dan urea. Seseorang yang sedenter dalam sehari rata-rata kehilangan 200 ml keringat, sedangkan orang dengan aktivitas tinggi akan kehilangan lebih banyak dari itu. Selain berfungsi mengeluarkan zat sisa, berkeringat atau sensible perspiration juga berperan dalam fungsi termoregulasi tubuh.1

C. Fungsi Absorbsi

Fungsi absorpsi yang dimiliki kulit memfasilitasi masuknya zat dari lingkungan eksternal menuju sel tubuh. Namun, tidak semua zat dapat masuk, melainkan hanya zat tertentu yang larut dalam lemak, termasuk di dalamnya adalah vitamin A, vitamin D, vitamin E, vitamin K, dan gas yaitu oksigen dan karbon dioksida. Di samping itu, zat yang bersifat toksik seperti aseton, garam logam timbal, merkuri, dan arsenik, racun oak dan ivy juga dapat terabsorpsi oleh kulit. Fungsi absorpsi ini juga memungkinkan obat-obatan yang jalur administrasinya secara topikal mampu masuk hingga bagian dermis kulit. Contoh dari obat-obatan tersebut adalah obat antiinflamasi yang menghambat produksi histamin oleh sel mast.1

D. Fungsi Imunitas

Kulit memegang peranan dalam sistem imunitas, khususnya imunitas bawaan. Imunitas bawaan terdiri dari barier epitel, sel-sel pada jaringan dan sirkulasi, serta protein plasma. Kulit tersusun atas jaringan epitel yang mencegah masuknya mikroba. Disintegrasi jaringan epitel akan meningkatkan kemungkinan munculnya infeksi. Selain itu, sel epitel juga mampu memproduksi peptida yang bersifat antimikroba yaitu peptida defensin dan cathelicidin. Peptida ini diproduksi sebagai respon terhadap sitokin maupun aktivitas dari mikroba.3

Selain epitel, kulit juga mengandung sel yang berfungsi dalam imunitas yaitu sel langerhans dan makrofag. Sel langerhans yang ditemukan pada stratum spinosum lapisan epidermis berfungsi dalam mengaktifkan sistem imun dengan mengenali mikroba yang berpotensi menimbulkan bahaya. Sedangkan makrofag pada dermis berperan dalam fagositosis bakteri dan virus.1


III. Penutup

Kulit merupakan organ yang sangat esensial berkaitan dengan fungsi-fungsinya yang tidak dapat digantikan oleh jaringan lain. Oleh karena itu, kesehatan kulit harus senantiasa dijaga agar dapat memberikan perlindungan dan fungsi maksimal bagi tubuh kita.


Referensi

1. Tortora GJ, Derrickson B. Principles of anatomy and physiology. 13th ed. John Willey & Sons; 2011.
2. Wolff K, Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest BA, Paller AS, Leffell DJ. Fitzpatrick’s dermatology in general medicine. 7th ed. New York: Mc Graw Hill; 2008.
3. Abbas AK, Licthman AH, Pillai S. Cellular and molecular immunology. 6th ed. Philadelphia: Saunders Elsevier; 2007.

Monday, October 21, 2013

Proses Pemulihan Jaringan pada Sistem Dermatomuskuloskeletal dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya

Hai hai, kali ini Nita mau share info tentang pemulihan jaringan setelah trauma, semoga bermanfaat ya Rek ;) FYI: tidak untuk dijadikan referensi, kalau mau referensi langsung ada di bawah oke (y)

I. Pendahuluan

Sistem dermatomuskuloskeletal merupakan gabungan dari dua sistem yaitu sistem integumen dan sistem muskuloskeletal. Sistem ini terdiri atas kulit dan jaringan penunjang, otot rangka, tulang, dan tulang rawan. Pada masing-masing komponen tersebut, dapat juga ditemukan jaringan ikat yang menunjang baik secara struktural maupun fungsional dari jaringan utamanya.

Baik kulit, otot, maupun tulang, ketiganya dapat mengalami cedera yang disebabkan oleh kecelakaan. Tulang yang merupakan jaringan keras, strukturnya dikelilingi oleh jaringan lunak. Jika terjadi cedera pada tulang maka akan menyebabkan cedera pada jaringan lunak sekitarnya. Dan apabila fraktur tersebut sifatnya terbuka, maka terdapat luka atau cedera pada kulit yang meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi. Apabila terjadi cedera, jaringan-jaringan tersebut memiliki kapasitas untuk mengembalikan fungsi normalnya. Namun, kapasitas dan mekanisme regenerasi antar jaringan tersebut tidaklah sama. Di samping itu, terdapat faktor-faktor yang dapat mempengaruhi proses pemulihan jaringan.


Wednesday, October 16, 2013

Hai Blogreaders,
Ada yang tau ini minggu ke berapa? Hm, minggu ke berapa apanya ya Qaqa'?
Kalo di habitatku di sini, itu identik dengan minggu ke berapa dalam satu modul kuliah!
Dan mulai hari inilah, *sebenernya mulai tanggal 14 sih, cuma karena dua hari kemarin libur, jadi yaudahlahyaaaa*, MODUL yang dinamakan DERMATOMUSKULOSKELETAL siap menemani hari-hari di kampus... Yuhuuu, ini modul bener2 baru ada di kurikulum tahun 2012 (which means, angkatanku lah yang menjajalnya untuk pertama kali yaitu modul KULIT digabung dengan MUSKULOSKELETAL)
Nggak tega kalau lihat ekspresi Kakak-Kakak kelas pas dengar nama dan nasib modul ini...
Tapi yang jelas, ini adalah sebuah tantangan besar, dan kesempatan buat mahasiswa FKUI angkatan 2012 untuk bisa belajar kedokteran lebih dalam


SELAMAT DATANG MODUL DERMATOMUSKULOSKELETAL
Semoga kita bisa bersahabat ^^

Sunday, October 13, 2013

Happy Birthday My Beloved Arung Xlamn


13 Oktober 2008
Awal mula kita bersatu
Oh tidak, bukan bersatu, cuma berkumpul jadi satu
Awalnya kita sering berseteru
Ah, seiring berjalannya waktu semua itu makin seru

Arung Xlamn,
Nama yang orang nggak tau artinya apa
Itu kita
Kita semasa early adolescene dulu
Sampai sekarang nama itu masih ada
Meski kita sudah bukan early adolescene lagi

Arung Xlamn selalu punya cerita
Arung Xlamn itu keluarga
Arung Xlamn juga sistem kenegaraan
Arung Xlamn Spada, bukan yang lain


Semoga sukses menggapai citanya
Jadi orang-orang yang bermanfaat bagi sesama
Nggak akan terlupakan selamanyaa

LOVE YOU, XLAMN :*

Monday, October 7, 2013

Lily, The Blooming Flower

Happy Birthday my Sister


Semoga Lily panjang umur dan barokah
Semoga Lily sehat dan kuat
Semoga Lily nggak mager
Semoga Lily dapat jodoh yang ganteng *eh

Semoga Lily bisa jadi dokter yang baik dan amanah

Amiin

Tuesday, October 1, 2013

Bella ~

Selamat ulang tahun NYO ^^

Semoga sukses jadi insinyur yang berguna bagi agama nusa dan bangsa :)
Amiin

Bella dan Aku

Ada salam dari temenku yang namanya Bella 
orangnya ada di bawah, scroll down aja, di bulan juliiiiii

Monday, September 30, 2013

megaria

Happy Birthday
Mbak MEGA "GESTI" RIA

maricucans -_-

Selamat ya, akhirnya 17 tahun juga ckckck
Semoga jadi dokter yang baik dan amanah :)
PrincessXlamnZoneImbissillebay jangan sering2 ngebully mbak2nya ya
Baik-baik di sana...

Salam <3 dari PrincessOlysussXlamnAssassin
*ada salam juga dari temenku di sini yang mirip sama --> tiiiiiit

Sunday, September 29, 2013

Aktivitas Fisik Anak Usia Sekolah

Uah akhirnya sampai di penghujung pemicu dalam modul Tumbuh Kembang ini, yups... kali ini Diadianita dapat bagian yang lumayan asik. Kenapa asik? Yap, karena kita bahas sesuatu yang dilakukannya dengan menyenangkan yaitu: AKTIVITAS FISIK! Nah, tapi mungkin buat sebagian pembaca ada yang bilang itu nggak asik ya? Wah, hati-hati nih, soalnya yang namanya aktivitas fisik itu PENTING BEUUUD buat kesehatan kita. Mau tau? Check this out! *ini emang dikhususkan buat AF anak sekolah, tapi nggak ada salahnya loh buat dibaca-baca... ;) jangan lupa, GAK BOLEH AMBIL TULISAN ORANG SEMBARANGAN YAAA! Ada etikanya... Yuhuuu, selamat membaca! :)

I. Pendahuluan

Aktivitas fisik adalah semua gerakan tubuh yang dihasilkan oleh kontraksi otot rangka yang meningkatkan pengeluaran energi hingga di atas level basal dan menjaga kesehatan. Aktivitas fisik yang teratur pada masa anak dan remaja dapat menjaga kesehatan dan ketahanan dari seseorang. Jika dibandingkan antara anak yang aktif dan kurang aktif, anak yang aktif akan memiliki ketahanan kardiorespirasi yang lebih baik dan otot-otot yang lebih kuat. Di samping itu, anak yang aktif juga memiliki kadar lemak yang lebih sedikit dan memiliki tulang-tulang yang kuat. Kemungkinan untuk merasa gelisah dan mengalami depresi menurun pada anak dengan fisik yang aktif.1

Sayangnya, aktivitas fisik yang menjanjikan kesehatan prima tersebut seringkali diabaikan. Kesempatan untuk melakukan aktivitas fisik teratur seringkali dibatasi pada banyak sekolah. Physical education atau pelajaran olahraga hanya ada 4% di sekolah dasar, 8% di sekolah menengah dan 2% di sekolah menengah atas.1 Hal ini harus menjadi perhatian mengingat pentingnya aktivitas fisik khususnya bagi anak usia sekolah.


II. Pembahasan

A. Perkembangan Fisik Anak Usia Sekolah

Anak usia sekolah atau yang disebut juga periode middle childhood adalah mereka yang memasuki usia 6 hingga 12 tahun. Pada periode ini, pertumbuhan anak sekitar 3 sampai 3,5 kg dan 6 cm per tahunnya. Sementara lingkar kepala bertambah sekitar 2 sampai 3 cm selama periode ini, yang menandakan adanya penurunan kecepatan pertumbuhan otak dibandingkan periode sebelumnya. Gigi susu mulai tanggal dan digantikan oleh gigi dewasa. Organ seksual pada tahap ini masih tergolong imatur, tetapi ketertarikan pada lawan jenis sudah mulai ada dan meningkat hingga pubertas. Kekuatan otot, koordinasi, dan stamina meningkat secara progresif dan mulai mampu melakukan gerakan kompleks seperti menari, melempar bola basket, dan bermain piano. Keterampilan motorik tersebut selain membutuhkan maturasi fungsi juga perlu latihan.2 Hal ini menunjukkan bahwa seharusnya anak usia sekolah sudah mampu melakukan aktivitas fisik yang lebih banyak dibanding anak usia prasekolah.

B. Aktivitas Fisik Anak Usia Sekolah

Anak usia sekolah sudah seharusnya beraktivitas fisik sebagai bagian dari kegiatan sehari-hari seperti bermain, olah raga, transportasi, rekreasi, latihan fisik, baik dalam konteks keluarga, sekolah, maupun komunitas. Aktivitas fisik yang dimaksud selalu berhubungan dengan kesehatan kardiorespirasi dan metabolisme anak. Anjuran yang baik untuk anak usia sekolah adalah melakukan aktivitas fisik dengan intensitas sedang sampai tinggi minimal 60 menit dalam satu hari, agar mampu mempertahankan kesehatan kardiorespirasi dan metabolismenya.3

Selain menjaga kesehatan sistem kardiorespirasi, aktivitas fisik juga berkaitan dengan kekuatan otot. Untuk kelompok anak usia sekolah, aktivitas fisik yang mampu melatih otot termasuk dalam bagian permainan sehari-hari seperti memanjat pohon atau aktivitas menarik maupun mendorong.3 Sementara itu, aktivitas fisik yang membebani tulang mampu meningkatkan kadar mineral tulang yang secara otomatis meningkatkan kepadatan tulang. Aktivitas yang berguna untuk menguatkan tulang tersebut dapat berupa bermain, berlari, dan melompat.3

C. Keuntungan Melakukan Aktivitas Fisik

Orang yang rajin melakukan aktivitas fisik akan mendapatkan banyak keuntungan. Menurut Center for Disease Control and Prevention (CDC), keuntungan dari melakukan aktivitas fisik antara lain4:
  • Mengontrol berat badan
  • Menurunkan risiko penyakit kardiovaskular
  • Mengurangi risiko penyakit diabetes tipe 2 dan sindrom metabolik
  • Mengurangi risiko kanker
  • Menguatkan tulang dan otot
  • Memperbaiki kesehatan mental
  • Meningkatkan kemampuan melakukan aktivitas harian
  • Meningkatkan kesempatan hidup lebih lama

Tidak jauh berbeda dengan yang dibuat oleh CDC, keuntungan aktivitas fisik bagi anak menurut U.S. Department of Health and Human Services antara lain: meningkatkan ketahanan kardiorespirasi, memperkuat tulang dan otot, membantu mempertahankan berat badan yang sehat, mengurangi risiko penyakit selanjutnya seperti kadar kolesterol darah tinggi, hipertensi, dan diabetes tipe 2 yang secara otomatis meningkatkan kesempatan anak tersebut untuk tetap sehat hingga tua, dan juga dapat mengurangi depresi dan kecemasan.5

III. Penutup

Aktivitas fisik sangat penting dalam menjaga kesehatan seseorang sehingga sosialisasi mengenai pentingnya hal tersebut harus lebih ditingkatkan.

REFERENSI

1. Physical Activity Guidelines for Americans Midcourse Report Subcommittee of the President’s Council on Fitness, Sports & Nutrition. Physical activity guidelines for americans midcourse report: Strategies to increase physical activity among youth. Washington DC: U.S. Department of Health and Human Services; 2012.

2. Behrman RE, Kliegman RM, Jenson HB. Nelson textbook of pediatrics. 17th ed. Philadelphia: Saunders Elsevier; 2004.

3. World Health Organization. Global recomendations on physical activity for health. [series on the internet] cited 2013 September 25. Available from: http://whqlibdoc.who.int/publications/2010/9789241599979_eng.pdf

4. Centers for Disease Control and Prevention. Physical activity and health. [series on the internet] cited 2013 September 25. Available from: http://www.cdc.gov/physicalactivity/everyone/health/index.html

5. World Health Organization. Global strategy on diet, physical activity and health. [series on the internet] cited 2013 September 25. Available from: http://www.who.int/dietphysicalactivity/pa/en/index.html

Tuh kaaan, penting banget kan? Apa kubilang, so... buat pembaca, jangan lupa olahraga yo! :D

Friday, September 20, 2013

Perkembangan Psikososial

Alhamdulillah sudah masuk PBL 3 dan saatnya untuk diskusi lagi... Kali ini, saya punya tulisan tentang Perkembangan Psikososial. Ini cuma sharing yaaa, semoga bermanfaat :)

1. Pendahuluan

Pertumbuhan dan perkembangan merupakan dua hal yang tak dapat dipisahkan. Proses tumbuh kembang manusia yang dimulai sejak konsepsi hingga dewasa, berdasarkan lamanya dapat digolongkan menjadi dua fase yaitu fase cepat dan lambat. Fase cepat terjadi pada masa gestasi, balita, dan pubertas. Sementara fase lambat adalah saat anak usia 4 tahun hingga sebelum pubertas dan masa dewasa muda. Pertumbuhan terjadi secara fisik atau biologis, ditandai dengan bertambahnya ukuran akibat bertambahnya jumlah sel dan zat antarsel. Sementara perkembangan yang lebih mengacu pada perubahan fisiologis terjadi dalam berbagai aspek, antara lain: motorik kasar dan halus, kognitif, bicara dan bahasa, serta emosi dan perilaku yang berkaitan dengan perkembangan psikososial.

Psikososial adalah setiap perubahan dalam kehidupan individu baik yang bersifat psikologik maupun sosial yang mempunyai pengaruh timbal balik. Psikososial merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan hubungan antara kondisi sosial seseorang dengan kesehatan mental/emosionalnya. Karena itulah perkembangan psikososial sangat erat dengan perkembangan emosi dan tingkah laku.1

2. Isi

A. Perkembangan Psikososial


Menurut Erikson, perkembangan psikososial dapat digolongkan pada beberapa tahapan. Tahapan pertama dari perkembangan psikososial anak adalah tumbuhnya basic trust atau kepercayaan yang berkembang pada periode infant (0-18 bulan).1,2 Tahap ini merupakan tahap paling fundamental dari kehidupan.2 Kepercayaan tersebut berkembang saat bayi belajar bahwa kebutuhan mereka yang mendesak itu sangat sering terjadi. Keberadaan orang dewasa yang selalu dapat memenuhi kebutuhan tersebut menimbulkan kelekatan antara keduanya.1 Misalnya, ketika ia merasa lapar dan ingin makan namun belum bisa melakukannya sendiri. Bayi akan menangis dan ketika orang tua datang untuk memberikan makanan untuknya, ketegangan yang muncul saat ia menangis akan menghilang.1 Hal tersebut akan membangun kepercayaan anak dan jika berhasil akan membuatnya merasa aman di dunia ini. Berbeda dengan yang gagal, misalnya karena orang tua yang tidak konsisten, emosional, atau menolak, anak akan cenderung untuk mistrust. Ia akan selalu ketakutan dan percaya bahwa dunia ini tidak pernah konsisten.2