Sunday, December 31, 2017

2017 best gifts

Sudah lamaa sekali aku tidak menulis di blog ini, belum ada postingan bertahun 2017 hingga di bulan terakhir dalam tahun ini. Ibarat lemari mungkin sudah penuh debu dan sarang laba-laba. Ibarat air dalam kolam mungkin sudah hijau ditumbuhi alga.

Tahun 2017 kulalui dengan berbagai ujian hidup. Di awal tahun ini, aku berkenalan pertama kali dengan steroid dosis tinggi hingga aku bisa merasakan pipi yang mulai menggendut dan nafsu makan yang lebih dari biasanya. Sebuah spektrum penyakit vaskulitis yang bahkan baru pertama kali kudengar setelah empat tahun sekolah di FKUI: leucocytoclastic vasculitis- mengharuskanku mengonsumsi obat imunosupresan itu. Ada masa di mana stase kardio kulalui dengan kaki yang tak bisa melangkah sebagai mana biasa. Sakit luar biasa aku rasakan di bagian ankle, belum lagi infeksi sekunder yang menyertai ruam vaskulitis kulitku menambah rasa nyut-nyutan di sana.
Ada masa aku harus menahan sakit di kakiku hingga begitu lama aku berjalan menuju poli maupun IGD untuk bertemu pasien dan belajar dari guru-guruku. Sholat tidak bisa duduk tahiyat, sepatu pun tak sempurna dikenakan. Beruntung aku punya teman-teman suportif yang sangat mengerti, mereka mau bertukar jaga sampai aku cukup kuat untuk berdiri dan berjalan meskipun masih dengan nyeri ringan. Aku baru mulai menjalani shift jaga pertamaku saat temanku sudah menghabiskan shift jaga terakhirnya yaitu di minggu ketiga stase Kardio!

Di pertengahan tahun, waktu sedang pulang kampung ke Jember, untuk pertama kalinya -sepanjang ingatanku- aku merasakan apa itu sesak napas. Sebenarnya mungkin bukan yang pertama, karena waktu kecil aku sering bengek kalau batuk tapi sudah lupa bagaimana rasanya. Kali ini aku datang ke poli RS karena merasa masih bisa jalan bahkan naik motor dari rumah, tapi sampai di poli malah kena marah karena ternyata saturasi oksigen cuma 70%. Desat bo'! Terpaksa rawat inap dan betapa ingin ku menutup muka karena malu harus ditranspor pakai brankar keliling rumah sakit penuh koas UNEJ ini which is bisa aja aku kenal...

Di 2017 juga aku dan teman2 seangkatan mengalami balada modul preinternship dan modul kolaborasi di semeester terakhir perkuliahan kami. Karena 2012 adalah angkatan pertama dengan preinternship dan kolaborasi di sejarah perFKUI-an, maka kami yang istilahnya jadi "percobaan" pertama. Untuk modul yang pertama kali diadakan menurutku sudah sangat rapih walaupun tentu perlu perbaikan di sana sini. Alhamdulillah dapat wahana yang tidak terlalu jauh dari kosan, cuma sekitar jakarta timur saja jadi bisa PP dari jakarta pusat. Walaupun mendadak jadi relawan KPLDH 3 hari yang penuh drama di modul kolaborasi tapi itu semua bisa terlewati sampai akhir tahun ini.

Tim oneshot UKMPPD pun sudah terbentuk, berharap 2012 dan angkatan lain yang ikut UKMPPD februari nanti, benar2 bisa oneshot!

AMIN

Thursday, December 21, 2017

Kafe lagi

Atas, dari kiri ke kanan: Riza, Albi, Bopal. Bawah,dari kiri ke kanan: Zahro, Hanna, Cicih, Nita, Kiwah
21 Desember 2017, Departemen Parasitologi FKUI RSCM Salemba

Ga berasa ya guys, lima taun di FKUI, lima taun juga kita nongkrong sama-sama di Kafe, keluarga kecil yang punya tanggungan besar itu. Awalnya kita caang (calon anggota) yang lugu dan masih meraba-raba bisa dapat apa di Kafe, lalu naik tingkat dikit jadi angmud (anggota muda) yang udah mulai dididik ini itu sampai juga harus kepikiran bisa kontribusi apa buat Kafe... Setahun kita sabar bersama sampai gerbang itu dibuka, kita dilantik jadi AIB (anggota inti baru) Kafe dan memangku jabatan masing-masing. Ada yang jadi anggota divisi usaha, keuangan, personalia, staf hubeks... setahun penuh bimbingan kakak2 kita di Kafe, hingga mulai tahun berikutnya semakin besar tanggung jawab yang kita emban, sebagian dari kita sudah ada yang menjadi ketua UDS di Kafe. Kalian semua unik dan punya karakter. Ada Kiwah yang dari dulu galak n disiplin soal duit dan pencatatan, Zahro yang lembut juga periang dan berkoneksi luas, Cicih yang unik dan lucunya ga terbantahkan, Bopal yang garang tapi kalo gugup keringetan, Albi yang bocah, suka membulli dan dibulli, Riza yang tegas rapi soal jadwal dan disiplin, Hanna yang ceria dan suka cerita...
Begitu banyak cerita, badai duka dan angin bahagia yang kita alami selama hidup di Kafe. Ngga terasa sudah sampai kita di titik pelepasan, dari anggota inti menjadi anggota kehormatan katanya. Pernah satu ketika aku menanti saat itu tiba, tapi saat ia tiba ternyata itu bukan hal yang membahagiakan. Tapi hidup memang harus tetap berjalan.
Ingatlah bahwa kita pernah duduk bersama, memikirkan nasib organisasi yang jadi rumah kita semua. Ingatlah bahwa kita pernah bertengkar ini dan itu, berusaha menekan ego, kompetitif memenangkan berbagai games yang hadiahnya padahal selalu juga dirasakan oleh semua peserta kompetisi.
Ingatlah bahwa kelak jika kita sudah dewasa, ada Kafe tempat kita tumbuh dan berkembang bersama.
See you on top!

Dari Nita, yang pernah di usaha dan wlb :)