Sunday, March 16, 2014

Resensi Tuhan Maha Romantis

Maaf sebelumnya kalau saya agak lupa sama pelajaran Bahasa Indonesia SMA yang menugaskan membuat Resensi. Maaf sebelumnya kalau saya pikir, sah-sah saja membuat resensi macam ini. Jadi kalau ada yang salah dengan isi maupun cara penulisan dari resensi ini -yang ngga sesuai sama format manapun-, saya mohon maaf ya...
Jakarta, 16 Maret 2014


Judul buku : Tuhan Maha Romantis
Penulis : Azhar Nurun Ala
Penyunting : Abdullah Ibnu Ahmad
Penerbit : Azharologia, Lampu Djalan
Tahun Terbit : 2014
Cetakan : Pertama, Februari 2014
Tebal : 251 halaman

TUHAN MAHA ROMANTIS
"Ketika ekspresi rindu adalah doa, tak ada cinta yang tak mulia"

Azhar Nurun Ala, pemuda darah Sunda yang lahir di Lampung dan sangat mencintai sastra. Membaca dan menulis sudah pasti menjadi hobinya. Sebelum menulis buku, mahasiswa jurusan Ilmu Gizi FKM Universitas Indonesia ini sering mempublikasikan karya-karya melalui blog pribadinya http://azharologia.com/ . Novel Tuhan Maha Romantis yang ditulisnya ini merupakan buku kedua setelah kumpulan prosa Ja(t)uh yang terbit pada tahun 2013. Sukses mencetak buku pertamanya yang banyak dicari orang, Tuhan Maha Romantis resmi diluncurkan bersama dengan terbitnya cetakan kedua Ja(t)uh. Dengan gaya melankolis namun penuh optimistis, Azhar membawakan sebuah cerita cinta yang suci dan romantis. Metafora adalah favoritnya, memperbudak waktu adalah kekuatan ajaib yang paling diinginkannya.

Novel ini menceritakan seorang Rijal, pemuda yang lahir dari keluarga guru di Bandar Harapan, Lampung. Rijal adalah anak satu-satunya di keluarga tersebut yang sempat berberat hati karena harus meninggalkan Ayah dan Ibunya demi menimba ilmu di ibu kota. Menjadi mahasiswa sastra di Universitas Indonesia, mungkin menumbuhkan rasa bangga namun juga merajut perasaan cemas dan sedih karena harus berpisah dengan dua orang yang sangat dicintainya itu. Namun, demi mewujudkan cita-citanya pula, ia harus pergi, ia harus membuat orang tuanya bangga dan tak menyesal menyekolahkannya di jurusan Sastra.

Di kampus perjuangan itulah, kisah cintanya dimulai. Seorang wanita muslimah bernama Laras telah menawan hatinya. Laras adalah senior satu jurusan dengannya yang saat itu juga menjadi salah satu panitia ospek. Cantik, cerdas, berpendirian, muslimah taat, humoris, itulah penggambaran seorang Laras di novel tersebut. Sementara Rijal, seorang mahasiswa baru yang puitis, pemalu, namun tak kalah alim dan humoris. Dalam kehidupannya di UI, Rijal sering sekali dipertemukan dengan Laras, membuat hatinya semakin tertawan. Namun, ia tetap menyimpan gejolak jiwanya itu. Cinta tumbuh dalam hatinya, tapi tak jua terkembang menjadi kata. Kerinduannya pada Laras diekspresikannya dalam doa. Rijal tahu yang harus dilakukannya, menunggu, hingga saatnya tepat, ia akan melamar Kak Laras, pujaan hatinya.

"Mencintai itu, bukan cuma soal rasa suka atau ketertarikan. Bukan cuma soal kekaguman. Lebih dari itu, mencintai itu sebuah keputusan. Keputusan besar."

Rijal sudah memilih untuk menjadi tawanan abadi Laras. Hatinya sudah tak mampu lagi keluar dari penjara Laras, namun ternyata ia justru dihantamkan pada sebuah kenyataan pahit. Tepat di hari Rijal akan menyatakan perasaannya, Laras menghilang. Lenyap bagai pindah ke planet lain. Tak ada yang bisa dihubungi lagi, tak ada satupun! Apa yang membuat Laras pergi, ia tak tahu. Hilangnya Laras tentu membuatnya terluka. Hari berganti, bulan pun berganti, hingga lima tahun setelah perpisahan itu... Rijal belum bisa keluar dari penjara hati Laras, walaupun cincin pertunangan sudah melingkar di jarinya. Rijal melamar Aira, putri dari teman baik almarhum ayahnya, yang tak kalah cantiknya dengan Laras. Rijal melamar Aira tidak dengan tekad bulat. Ia ingin membuat Ibunya bahagia. Bukankah cinta itu membahagiakan orang yang kita cintai? Begitulah Rijal, cintanya pada Ibunya sangat besar. Namun pertemuan sore itu dengan Laras yang ternyata sengaja datang ke Indonesia setelah lima tahun 'menghilang' ke New Zealand hanya untuk bertemu dengannya, membuat Rijal goyah atas keputusannya telah melamar Aira.

***

Demikianlah rencana Tuhan, tiada satupun yang tahu apa yang akan terjadi besok. Namun itulah yang harusnya menguatkan kita, saat Tuhan punya skenario yang menurut kita tidak menyenangkan, Tuhan mungkin punya rencana lain... Seperti kata Azhar dalam novelnya,

"Bukankah pelangi hanya muncul setelah turun gerimis".

Banyak sekali pesan kehidupan yang Azhar sampaikan dan dikemas dalam cerita cinta romantisnya. Tanpa kesan menggurui, itulah gaya bahasa Azhar. Novel ini cocok dibaca oleh semua golongan, khususnya pemuda pemudi yang mungkin tengah merasakan getaran cinta seperti yang Rijal rasakan di cerita ini. Ekspresikan rindumu dalam doa, maka cintamu mulia. Bukan mengumbarnya di media sosial, bukan mengobralnya pada pengemis cinta yang kini merajalela.

Jika ingin tahu bagaimana akhir dari cerita cinta Rijal dan Laras, jangan ragu lagi untuk membaca buku ini! InsyaAllah sarat pesan dan makna, inspiratif!

-selamat ulang tahun, Kak Azhar-


No comments:

Post a Comment