Thursday, February 6, 2014

Histologi Ginjal dan Saluran Kemih

LTM pertama di modul Ginjal dan Cairan Tubuh
Semoga bermanfaat
Jangan lupa, PLAGIAT termasuk tindakan kriminal ya karena sama aja dengan mencuri...
Ada yang belum tahu apa itu plagiat? :) :)


1. PENDAHULUAN

Sistem urinaria merupakan sistem organ yang berperan utama dalam hal ekskresi. Sistem ini terdiri atas empat organ utama, yaitu: ginjal, ureter, vesika urinaria, dan uretra. Organ-organ tersebut disusun oleh jaringan-jaringan yang khas dan sesuai dengan fungsi masing-masing. Untuk dapat lebih memahami fungsi dan tugas dari sistem urinaria, penting untuk mengetahui struktur mikroskopik atau histologi dari organ penyusunnya yaitu ginjal dan saluran kemih.




2. PEMBAHASAN

2.1. GINJAL

Gambar 1. Ilustrasi nefron
Sumber: Mescher AL. Junqueira’s basic histology text & atlas. 13th ed. China: McGraw-Hill; 2013.

Ginjal merupakan organ ekskresi utama tubuh manusia. Unit struktural dan fungsional ginjal disebut nefron. Setiap ginjal memiliki 1 hingga 1,4 juta nefron fungsional. Nefron tersusun atas bagian-bagian yang berfungsi langsung dalam pembentukan urin. Adapun bagian-bagian nefron, yaitu: korpus renalis, tubulus kontortus proksimal, ansa henle segmen tebal dan tipis, tubulus kontortus distal, dan duktus koligens.1,2,3

Ginjal dibungkus oleh kapsul jaringan lemak dan jaringan ikat padat kolagen (kapsula fibrosa). Struktur tersebut disebut sebagai kapsula ginjal. Di sebelah dalam kapsula ginjal, terdapat bagian korteks dan di sebelah dalam korteks terdapat medulla. Korteks berisi korpus renalis atau korpus malphigi yang merupakan kesatuan dari glomerulus dan kapsula Bowman. Selain itu juga terdapat tubulus kontortus dan arteri atau vena yang mendarahinya. Di medulla, dapat ditemukan struktur duktus namun tidak terdapat jaringan glomerulus.1,2,3 Dengan adanya perbedaan khas tersebut, secara mikroskopis, ginjal dapat dibedakan dengan jelas mana bagian korteks dan mana bagian medullanya.

a) b)
Gambar 2. Histologi ginjal, a) korteks b) medulla
Sumber: Eroschenko VP. diFiore’s atlas of histology with functional correlations. 11th ed. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins; 2008., Mescher AL. Junqueira’s basic histology text & atlas. 13th ed. China: McGraw-Hill; 2013.

Korteks ginjal mengandung korpus renalis yang merupakan permulaan dari setiap nefron. Korpus renalis mengandung kapiler glomerulus yang diselubungi oleh dua lapis epitel yang disebut kapsula Bowman. Lapisan dalam kapsul atau lapisan visceral kapsula Bowman menyelimuti kapiler glomerulus. Pada lapisan ini terdapat podosit, yaitu sel yang memiliki prosesus primer dan sekunder yang menyelimuti kapiler glomerulus dengan saling bersilangan. Sementara itu, lapisan parietal di sebelah luarnya, yang tersusun dari epitel selapis skuamosa, membulat dan membentuk rongga di antara keduanya yang disebut rongga urin atau rongga kapsular. Di sinilah hasil ultrafiltrat ditampung untuk selanjutnya diteruskan ke tubulus kontortus proksimal. Korpus renalis memiliki dua kutub yaitu kutub vaskular dan kutub tubular. Kutub vaskular berarti kutub tempat masuknya arteriol aferen dan keluarnya arteriol eferen. Daerah ini ditandai dengan adanya struktur makula densa, yaitu sel reseptor berbentuk palisade di dinding tubulus kontortus distal yang dekat dengan glomerulus. Di daerah ini juga dapat ditemukan sel jukstaglomerular atau sel granular yang merupakan modifikasi dari otot polos dinding arteriol aferen. Makula densa, sel jukstaglomerular, dan kumpulan sel mesangial ekstraglomerular membentuk aparatus jukstaglomerular.1,2,3 Struktur ini berfungsi dalam pengaturan volume dan tekanan darah.3

Struktur nefron berikutnya adalah tubulus-tubulus yang berperan dalam proses reabsorpsi. Berikut ini merupakan ciri khas penampakan mikroskopis dari masing-masing tubulus.1,2,3

Tubulus kontortus proksimal : Epitel selapis kuboid dengan brush border sehingga batas sel dengan lumen tampak tidak jelas, Batas antar sel juga tidak jelas karena membran sel lateral berinterdigitasi dengan sel tetangga, Sitoplasma asidofilik dan granular, Jarak antar inti sel jauh , Ditemukan di jaringan korteks

Ansa henle segmen tebal pars desendens : Epitel selapis kuboid dengan brush border sehingga batas sel dengan lumen tampak tidak jelas, Batas antar sel juga tidak jelas karena membran sel lateral berinterdigitasi dengan sel tetangga, Sitoplasma asidofilik dan granular, Jarak antar inti sel jauh, Ditemukan di jaringan medulla

Ansa henle segmen tipis : Epitel selapis skuamosa, mirip dengan kapiler namun tidak memiliki sel darah pada lumennya, Tidak dapat dibedakan antara asendens dan desendens

Ansa henle segmen tebal pars asendens : Epitel selapis kuboid tanpa brush border sehingga batas sel dengan lumen tampak cukup jelas dibanding tubulus kontortus proksimal , Batas antar sel juga tidak jelas karena membran sel lateral berinterdigitasi dengan sel tetangga, Sitoplasma terlihat lebih pucat, Jarak antar inti sel lebih rapat dibanding tubulus kontortus proksimal, Ditemukan di jaringan medulla 


Tubulus kontortus distal : Epitel selapis kuboid tanpa brush border sehingga batas sel dengan lumen tampak cukup jelas dibanding tubulus kontortus proksimal, Batas antar sel juga tidak jelas karena membran sel lateral berinterdigitasi dengan sel tetangga, Sitoplasma terlihat lebih pucat, Jarak antar inti sel lebih rapat dibanding tubulus kontortus proksimal, Ditemukan di jaringan korteks


Duktus koligens, Epitel selapis kuboid dengan batas antar sel atau membran sel yang jelas


Gambar 4-10. Tubulus ginjal
Sumber: Mescher AL. Junqueira’s basic histology text & atlas. 13th ed. China: McGraw-Hill; 2013.

Setelah melalui serangkaian traktus pada nefron, urin akan bermuara pada duktus papilaris Bellini di bagian apeks dari piramid medula. Adapun struktur dari duktus papilaris Bellini ini adalah dindingnya merupakan epitel selapis silindris dengan batas cukup jelas. Urin yang melewati traktus tersebut kemudian akan ditampung di calyx minor untuk selanjutnya dialirkan ke calyx mayor, pelvis renalis, dan ureter. Ketiga struktur ini disusun oleh sel epitel transisional yang khas dengan sel payungnya.1,2,3


Gambar 11. Duktus papilaris Bellini
Sumber: Slide Kuliah

2.2. URETER

Manusia memiliki sepasang ureter yang menghubungkan ginjal dengan vesica urinaria. Saluran ini memiliki lapisan mukosa yang melipat ke arah dalam dengan jenis epitel transisional. Berbatasan dengan lamina propria, terdapat struktur lapisan muskularis berupa otot polos yang lebih tebal dari mukosa. Otot polos ini terdiri atas dua lapis pada ureter proksimal (sirkular dan longitudinal) serta tiga lapis pada ureter distal (longitudinal, sirkular, dan longitudinal). Bagian terluarnya juga dapat ditemukan tunika adventisia.1,2,3

Gambar 12. Ureter
Sumber: Mescher AL. Junqueira’s basic histology text & atlas. 13th ed. China: McGraw-Hill; 2013.


2.3 VESICA URINARIA

Vesica urinaria atau kantung kemih merupakan organ penampung urin sementara sebelum dikeluarkan atau berkemih. Organ ini memiliki tiga lapisan otot polos yang cukup tebal dan tidak tersusun rapi seperti di ureter karena susunannya beranastomosis. Otot ini disebut m. detrusor. Epitel permukaannya adalah transisional dengan enam lapis sel, lebih tebal dibandingkan ureter.1,2,3


Gambar 13. Vesica urinaria
Sumber: Mescher AL. Junqueira’s basic histology text & atlas. 13th ed. China: McGraw-Hill; 2013.

2.4 URETRA

Uretra merupakan traktus fibromuskular yang membawa urin dari vesica urinaria keluar tubuh. Epitelnya tidak hanya satu jenis. Pada wanita, yang panjangnya sekitar 4 – 5 cm, dinding uretra tersusun atas epitel transisional di bagian proksimal dan epitel berlapis skuamosa di bagian luarnya. Pada pria yang memiliki uretra lebih panjang dari wanita dapat ditemukan epitel berlapis kolumnar.1,2,3


Gambar 14. Uretra
Sumber: Mescher AL. Junqueira’s basic histology text & atlas. 13th ed. China: McGraw-Hill; 2013.



III. PENUTUP

Ginjal sebagai organ pembentuk urin memiliki struktur fungsional yang sangat kompleks dan sehingga fungsinya tidak dapat digantikan oleh organ lain. Saluran kemih adalah saluran yang disusun oleh epitel-epitel khusus yang sesuai dengan fungsinya. Setelah mengetahui struktur histologi dari masing-masing organ, diharapkan akan membantu dalam mempelajari fisiologi dan patologi dari ginjal dan saluran kemih.



IV. REFERENSI

1. Mescher AL. Junqueira’s basic histology text & atlas. 13th ed. China: McGraw-Hill; 2013. p. 415-18.
2. Eroschenko VP. diFiore’s atlas of histology with functional correlations. 11th ed. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins; 2008. p. 355-26.
3. Martini FH, Nath JL, Bartholomew EF. Fundamentals of anatomy & physiology. 9th ed. San Francisco: Pearson Education; 2012. p. 960-3.

2 comments:

  1. kalo plagiat gak boleh,copas boleh kan??? hahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. copas tanpa sitasi sama dengan plagiat, kalau copas dengan sitasi itu boleh...

      Delete