Sunday, February 23, 2014

Faktor Risiko dan Pencegahan Infeksi Saluran Kemih

Ngga terasa sudah masuk minggu ketiga modul Ginjal dan Cairan Tubuh. Nita pengen share sedikit tentang infeksi saluran kemih, semoga bermanfaat ya :)

1. PENDAHULUAN

Sistem urinaria terdiri atas sepasang organ ginjal dan saluran kemih yang bertugas dalam mengekskresikan urin keluar tubuh. Ginjal maupun saluran kemih dapat mengalami infeksi. Infeksi saluran kemih (ISK) dapat terjadi baik di saluran kemih atas maupun bawah. ISK atas seringkali berkaitan dengan pyelonefritis akut, prostatitis, abses intrarenal dan perinefrik. Sedangkan ISK bawah biasanya berhubungan dengan uretritis dan sistitis. Infeksi pada kedua tempat tersebut dapat terjadi secara bersamaan atau independen.1



2. PEMBAHASAN

ISK dapat disebabkan oleh berbagai etiologi. Mikroorganisme yang berperan dalam ISK berupa bakteri, parasit, virus, atau jamur. Masing-masing etiologi tersebut memiliki patogenesis tersendiri.

2.1 Faktor Risiko Infeksi Saluran Kemih

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi patogenesis infeksi saluran kemih antara lain:

1. Jenis kelamin dan aktivitas seksual

Secara anatomi, uretra perempuan memiliki panjang sekitar 4 cm dan terletak di dekat anus. Hal ini menjadikannya lebih rentan untuk terkena kolonisasi bakteri basil gram negatif. Karenanya, perempuan lebih rentan terkena ISK. Berbeda dengan laki-laki yang struktur uretranya lebih panjang dan memiliki kelenjar prostat yang sekretnya mampu melawan bakteri, ISK pun lebih jarang ditemukan.1,2

Pada wanita yang aktif seksual, risiko infeksi juga meningkat. Ketika terjadi koitus, sejumlah besar bakteri dapat terdorong masuk ke vesica urinaria dan berhubungan dengan onset sistitis. Semakin tinggi frekuensi berhubungan, makin tinggi risiko sistitis. Oleh karena itu, dikenal istilah honeymoon cystitis.1,2

Penggunaan spermisida atau kontrasepsi lain seperti diafragma dan kondom yang diberi spermisida juga dapat meningkatkan risiko infeksi saluran kemih karena mengganggu keberadaan flora normal introital dan berhubungan dengan peningkatan kolonisasi E. coli di vagina.1

Pada laki-laki, faktor predisposisi bakteriuria adalah obstruksi uretra akibat hipertrofi prostat. Hal ini menyebabkan terganggunya pengosongan vesica urinaria yang berhubungan dengan peningkatan risiko infeksi.2 Selain itu, laki-laki yang memiliki riwayat analseks berisiko lebih tinggi untuk terkena sistitis, karena sama dengan pada wanita saat melakukan koitus atau hubungan seksual dapat terjadi introduksi bakteri-bakteri atau agen infeksi ke dalam vesica urinaria. Tidak dilakukannya sirkumsisi juga menjadi salah satu faktor risiko infeksi saluran kemih pada laki-laki.1

2. Kehamilan

ISK seringkali menyerang perempuan hamil dengan prevalensi rerata sekitar 10%. Hal ini dikaitkan dengan adanya perubahan fisiologis pada perempuan yang sedang hamil seperti pengaruh hormon progresteron dan obstruksi oleh uterus yang menyebabkan dilatasi sistem pelviokalises dan ureter.3 Pada perempuan hamil juga terjadi penurunan tonus ureter dan peristaltiknya, serta peningkatan refluks vesikoureter karena katup vesikoureter yang sementara kurang kompeten.1,3 Kateterisasi vesika urinaria yang terkadang dilakukan sebelum atau sesudah partus juga turut menambah risiko infeksi.1

3. Obstruksi

Penyebab obstruksi dapat beraneka ragam di antaranya: tumor, striktur, batu, dan hipertrofi prostat. Hambatan pada aliran urin dapat menyebabkan hidronefrosis, pengosongan vesica urinaria yang tidak sempurna, sehingga meningkatkan risiko ISK.1,2

4. Disfungsi neurogenik vesica urinaria

Gangguan pada inervasi vesica urinaria dapat berhubungan dengan infeksi saluran kemih. Infeksi dapat diawali akibat penggunaan kateter atau keberadaan urin di dalam vesica urinaria yang terlalu lama.1



5. Vesicoureteral reflux

Refluks urin dari vesica urinaria menuju ureter hingga pelvis renalis terjadi saat terdapat peningkatan tekanan di dalam vesica urinaria. Tekanan yang seharusnya menutup akses vesica dan ureter justru menyebabkan naiknya urin. Adanya hubungan vesica urinaria dan ginjal melalui cairan ini meningkatkan risiko terjadinya ISK.

6. Faktor genetik

Faktor genetik turut berperan dalam risiko terkena ISK. Jumlah dan tipe reseptor pada sel uroepitel tempat menempelnya bakteri ditentukan secara genetik.1

2.2 Pencegahan Infeksi Saluran Kemih

Pencegahan ISK yang dapat dilakukan adalah dengan menghindari atau meniadakan faktor risiko yang telah tersebut di atas. Peran dokter dalam mengedukasi pasien sangatlah penting guna menyampaikan poin-poin pencegahan yang dapat dilakukan sendiri oleh pasien. Adapun hal yang harus diperhatikan dalam mencegah ISK termasuk dalam kategori berikut ini:

1. Kebersihan

Kebersihan memegang peranan penting dalam pencegahan ISK. Tempat yang kotor dapat menjadi ladang tumbuh bakteri. Letak orificium uretra eksterna, vagina, dan anus yang dekat dan berurutan pada perempuan mengharuskan untuk mencuci daerah tersebut dari depan ke belakang guna menghindari transmisi bakteri fecal dari usus.2,4

Hambatan pengosongan vesica urinaria merupakan salah satu faktor risiko dari ISK. Oleh karena itu, untuk mencegah ISK, sebaiknya tidak menunda berkemih apabila vesica urinaria sudah terasa penuh.2,4

Masih berkaitan dengan kebersihan, pada wanita yang aktif seksual, sebaiknya membiasakan diri untuk berkemih setelah melakukan hubungan untuk menghilangkan agen-agen infeksi.1,2,4

2. Berpakaian

Dalam berpakaian, bahan yang cenderung pengap dan menekan atau terlalu ketat sebaiknya dihindari. Sebab akan menjadi faktor pendukung pertumbuhan bakteri. Pakaian terutama pakaian dalam baiknya diganti setiap hari.2,4

3. Diet

Minum air yang cukup untuk menjadikan urin encer sehingga dapat sekaligus membersihkan saluran kemih. Selain itu, jus cranberry juga telah diteliti efektif dalam mengurangi ISK.1,2,3,4



4. Aktivitas

Selama melakukan aktivitas fisik atau latihan fisik, sebaiknya tetap ingat untuk senantiasa rutin berkemih. Hal ini dapat dibantu dengan minum banyak air. Pada perempuan yang aktif seksual selain harus buang air kecil setelah berhubungan juga dianjurkan untuk tidak menggunakan spermisida karena dapat mengganggu flora normal vagina yang justru memicu kolonisasi spesies mikroba lain.1,2,4

5. Medikasi

Pada perempuan dengan frekuensi mengalami infeksi saluran kemih yang tinggi (lebih dari 3 kali per tahun) biasanya akan dianjurkan untuk konsumsi antibiotik dosis rendah jangka panjang untuk mencegah rekurensi.1

6. Skrining

Pada perempuan yang sedang hamil, dianjurkan untuk melakukan skrining bakteriuria pada trimester awal dan segera diberikan tatalaksana apabila memang terdapat bakteriuria.1,3 Hal ini dikarenakan ISK dapat menimbulkan komplikasi kehamilan berupa: persalinan preterm, pertumbuhan janin terhambat, dan stillbirth (janin lahir mati).3

3. PENUTUP

Infeksi saluran kemih dipicu oleh beragam faktor yang mampu memperburuk kondisi sakit. Namun, hal tersebut juga dapat dicegah, yang paling penting dengan menjaga kebersihan serta skrining guna mengetaui lebih awal apabila terdapat abnormalitas atau infeksi.

4. REFERENSI

1. Kasper DL, Braunwald E, Fauci AS, Hauser SL, Longo DL, Jameson JL. Harrison’s principles of internal medicine. 16th ed. New York: McGraw-Hill; 2005. p.1715-7.

2. Davis CP. Urinary tract infection. [Internet]. 2013 [updated 2013 Feb 21; cited 2014 Feb 19]. Available from: http://www.medicinenet.com/urinary_tract_infection/page2.htm

3. Ocviyanti D, Fernando D. Tatalaksana dan pencegahan infeksi saluran kemih pada kehamilan. J Indon Med Assoc. 2012 Dec 12;62(12):482-5.

4. Brusch JL. Prevention of urinary tract infections in women: general guidelines and suggerstions. [Internet]. 2013 [updated 2013 Jun 20 ; cited 2014 Feb 19] Available from: http://emedicine.medscape.com/article/1958794-overview

No comments:

Post a Comment