Thursday, May 23, 2019

Devide et Impera

Hai Bung!
Iya kamu yang rame2 di Jakarta
Yang bikin rusuh sana sini
Yang bikin sibuk Pak Polisi dan TNI

Hai Sis!
Iya kamu yang sempat berpikir bahwa
Kerusuhan ini didalangi oleh nol dua
Atau oleh nol satu biar membalikkan fakta

Kawanku,
Untukmu yang demo 
dan yang resah karena demo

Ingatkah kalian?
Nusantara pernah pecah belah karena adu domba
Kompeni dengan manis membumbui setiap kata
Libas habis saja!
Tak peduli masih saudara
Demi kekuasaan yang ternyata semu belaka

Saat terpecah,
Kekuatan kita melemah,
Penjajah makin mudah menjamah,

Sadarkah kalian?
Bukan nol satu atau nol dua
Ini devide et impera!
Oleh penjajah yang entah siapa
Dan dari mana

Sekarang ini
Ada yang manggut2 menikmati tanyangan tivi
Melihat bumi pertiwi penuh emosi
"Sebentar lagi
Indonesia kuhabisi"
Gumamnya dalam hati

dss

Friday, April 26, 2019

Abortus Provokatus

Malam itu, adalah jadwal jaga malamku yang kesekian kali sebagai dokter internsip di sebuah rumah sakit swasta tipe C di kota kelahiranku. Suasana IGD tampak biasa, tidak sepi dan tidak juga crowded. Semuanya masih aman terkendali. Beberapa kali telepon IGD berdering, entah telepon dari ruangan, apotek, laboratorium, admisi, atau telepon dari Puskesmas dan Klinik yang hendak merujuk pasien ke IGD RS ini. Satu telepon berdering dengan ringtone yang cukup panjang, menandakan ini  bukan dari internal RS, kemungkinan besar adalah rujukan. Benar saja, sebuah Puskesmas dari suatu daerah di kabupaten ini hendak merujuk pasien dengan kasus...

...abortus provokatus!

Yap, aborsi disengaja yang dilakukan demi meniadakan kehamilan yang tidak diinginkan. Disebut juga abortus kriminalis karena ini adalah suatu bentuk kejahatan yang juga diatur dalam KUHP, dan berhubungan dengan hilangnya nyawa seorang calon manusia. Seorang remaja putri yang masih belum genap berusia 17 tahun, belum punya KTP, dan belum punya suami, dirujuk karena perdarahan pervaginam serta tekanan darah yang tidak kunjung naik setelah dilakukan resusitasi cairan oleh petugas kesehatan di Puskesmas.
Remaja ini tiba dalam kondisi sadar penuh, bisa diajak komunikasi, mengeluhkan dadanya sesak dan nyeri di bagian perutnya. Ia belum paham bahwa nyawanya sedang terancam karena tekanan darahnya saat itu hanya terpaut di angka 50 mmHg per palpasi setelah masuk resusitasi sebanyak 2 liter cairan intravena di Puskesmas. Aku melihat kantong urin yang tersambung dengan kateter ke saluran kemih remaja ini, sudah terpasang sejak di Puskesmas dan tampak kempis, tak ada urin melainkan hanya di bagian selang. Setelah 2000 ml cuma segini? Dear, It's not a good news.

to be continued

Wednesday, March 6, 2019

Sampai Jumpa Lagi

Kubiarkan ombak menyapa jemari kakiku, sementara jejakku terbenam di antara pasir basah. Suara kicau burung yang beradu  dengan debur ombak serta riuh canda anak nelayan turut mewarnai sore itu. Kau berdiam, mematung, memandang jauh ke ujung cakrawala. Desau angin menyibakkan setiap helai rambut yang menghiasi indah wajahmu, menerpa kegelisahan yang tampak nyata di rautmu.

"Aku harus pergi", katamu setengah berbisik sambil menelan pahit yang mencekat. Tiga kata yang kau ucap barusan memecah keheningan yang sedari tadi menyelimuti kita. Aku bisa apa? Aku tetap memilih diam, mungkin sudah waktuku untuk melepaskanmu terbang bebas. Kata "Tetaplah tinggal" terdengar sebagai "Sampai jumpa lagi", meski aku tak tau, kapan jumpa itu bisa sampai terjadi lagi.

Monday, December 31, 2018

Last day of 2018

2018 bagiku terasa amat sangat cepat berlalu. Begitu banyak cerita, tangis, tawa, sedih, bahagia, perpisahan, dan perjumpaan yang tercipta di tahun ini. Awal tahun 2018 kental dengan aroma modul preinternship dan berbagai ujian sekolah serta kesibukan belajar bersama demi persiapan ukmppd. Mengulang 7 Maret untuk yang ke-22 kalinya dalam hidup, mengingatkanku bahwa umur tak pernah bisa mundur... Tahun ini pula aku resmi mendapat ratusan saudara kandung baru yang dilantik bersama, bersumpah bersama, dan menjadi dokter bersama. Mengemban tugas ini ternyata berat, namun inilah jalan yang sudah kami pilih dan Allah wujudkan menjadi nyata. Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku menginjakkan kaki di benua biru dan itu juga terjadi di 2018. Sebuah pengalaman tak terlupakan, menjalani puasa Ramadhan saat musim panas di Eropa yang bisa sampai 22 jam! 2018 menjadi saksi berbagai perpisahan yang berat bagiku. Tapi 2018 juga membawaku pada pertemuan-pertemuan tak terduga, yang sedikit banyak mengagetkan... 2018 membawaku kembali pada kampung halaman yang sudah enam tahun lamanya aku tinggalkan untuk merantau ke ibukota. 
Terimakasih 2018, alhamdulillah resolusi awal tahun lalu sudah banyak tercentang. Saatnya menyusun resolusi baru untuk 2019. Tahun yang akan terwarnai lagi oleh beragam perpisahan dan pertemuan yang penuh misteri... Bismillahirrahmanirrahim.

Sunday, November 4, 2018

Hujan

Barangkali kita perlu meminta maaf pada hujan
Rintiknya yang sejuk kerap mendapat cacian
Sesekali berterimakasihlah padanya
Juga pada Dzat yang menjadikannya ada
Tanpanya, tanaman mengaduh
Tanpanya, nyata jadinya air mata yang jatuh

Hujan selalu menjadi teman
bagi setiap tangis dan ratapan
Hujan mampu menyembunyikan
sesuatu yang ingin tetap tersimpan
Hujan pula yang mampu menghadirkan
pahit manis setiap kenangan

Jika aku ibarat hujan
Mungkin kamu adalah bumi
Karena aku telah berulang kali
Jatuh, dan jatuh kepadamu lagi

Wednesday, October 31, 2018

Dieng Trip

27 Juli 2018

Finally, trip itu bukan hanya jadi wacana. Setelah usai perjuangan UKMPPD dan resmi menyandang gelar baru, aku dan "geng belajar" merencanakan untuk pergi jalan2 bersama. Setelah berbagai diskusi akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke Wonosobo dan mengunjungi Dataran Tinggi Dieng! Sayangnya waktu itu ngga bisa fullteam, Sarah dan Hafiz baru saja pulang honeymoon GHTL dari Lombok sementara Rendi sedang ikut PIT IPD. Bella sudah di Aceh jadi ngga bisa ikut juga. Jadilah kami hanya bersembilan. Fahmi sudah menanti di kediamannya di Wonosobo, sementara Cholis mengambil perjalanan naik bis dari Pare setelah ikut kursus bahasa di sana. Sisanya kami bertujuh: Aku Lily Elva Agnes Ami Iwan dan Aldi memesan travel dan berangkat bersama-sama dari Jakarta.

Ceritanya kumpul di Lawson Salemba Tengah, menunggu Travel yang tak kunjung datang...

Saturday, October 20, 2018

Internship Mode: On

Setelah penantian panjang akhirnya saat internsip itu datang juga. Kurang lebih enam bulan setelah sumpah dokter atau delapan bulan sejak resmi berhenti jadi koas dan menghadapi ujian nasional kelulusan dokter, kami pun "diberangkatkan" untuk mengabdi dan memahirkan ilmu yang sudah kami pelajari selama ini. Alhamdulillah keinginanku untuk internsip di Jember dikabulkan Allah SWT. Motivasi yang menjadikan aku rela menjadi single fighter (artinya tidak janjian dengan teman untuk memilih RS ini) saat pemilihan wahana adalah karena pertama, aku ingin kembali tinggal di rumah supaya dekat dengan orang tua, dan yang kedua adalah karena aku ingin mengamalkan ilmu yang aku dapat di kampung halamanku tercinta. Tak kusangka ada satu makhluk sealmamater yang terjebak juga di RS yang sama denganku, dialah Didi aka Dinar alias Dinarda Ulf Nadobudskaya dr., calon konsultan perinatologi dari Bekasi. Semenjak ada Didi di Jember, aura ke-ambis-an selalu ada di sekitarku, bagaikan menambah bensin di kobaran bara api...
Alhamdulillah kami berdua dipertemukan dengan teman-teman alumnus FK Universitas Jember yang super duper asik, narsis semi melankolis, dan punya hobi sama yaitu renang! Ngga seperti wahana lain yang bisa berbelas-belas manusia, kami di sini hanya bertujuh kepala: satu Mas Nadzir dan enam ibu-ibu rempita yang unik-unik: Mba Putri, Mba Cynthia, Elisa, Della, aku dan Didi. Lain waktu akan aku ceritakan keunikan mereka. Kami akan menjalani internsip bersama insyaAllah satu tahun ke depan, dengan urutan rotasi IGD - rawat jalan/rawat inap - Puskesmas. Mohon doanya dan semoga lancar ya teman-teman!!!

Ini dia geng iship RS Bina Sehat Jember, PKM Puger 2018-2019:

Dari kanan ke kiri: Mas Nadzir, Della, Didi, Elisa, Mba Cynthia, me, n Mba Putri

Wednesday, October 10, 2018

Mengejar Rindu

Aku masih berlari
menyusuri pasir pantai kerinduan
Butir-butir halus yang mengaduh
Dihempas ombak jarak yang selalu ada

Ingin aku berlayar
Menanggalkan semua rasa
Mengarungi samudera jarak
Yang membentang luas di hadapan kita

Ingin aku berlabuh
Pada pesisir pantai di seberang
Tempatmu berdiri
Tempatmu bernaung

Thursday, September 27, 2018

Aku dan Senja

Aku dan senja
Rindu saling menyapa
Semburat merah jingganya yang nyata
Menghiasi langit cakrawala
Berkata dia padaku
Jangan takut akan gelap
Temui aku lagi
Besok di batas barat



Foto oleh @ajengfanseda

Friday, September 21, 2018

Hujan dan Kenangan

Masih ingatkah engkau, Adinda
Rintik hujan yang mengiringi pertemuan pertama kita
Setiap tetesnya menghujamkan memori
Yang menggenang indah menenggelamkan sanubari

Sore ini, masih di sudut kota ini
Hujan turun lagi ke bumi
Menjawab rindu yang kering kerontang
Membasahinya dengan temu

Aroma basah yang menyeruak
Seiring datang dengan bayangan indah yang muncul di benak

Hanya bayangan
Hanya kenangan
Ragamu sudah jauh di angan

Tak ada lagi
Tinggal aku sendiri